Pendidikan

Yi Asnawi Kyai Kharismatik yang selalu di lirik

Yi Asnawi, itulah sebutan yang melekat bagi seorang Kyai kharismatik dari desa Banjarsari, kecamatan Gajah, kabupaten Demak. Nama asli beliau adalah Moh. Asnawi Noor, beliau lahir tanggal 24 November 1957 di desa Banjarsari, Gajah, Demak. Yi Asnawi adalah putra kedua dari tiga bersaudara, kakaknya bernama Kyai Muhammad Subakir dan adiknya bernama Siti Mahmudah. Ayahnya adalah seorang Kyai yang masyhur di desa, yang bernama Kyai Noor Rohmat, dan ibunya bernama Nyai Nurisih.

Dari perkawinannya dengan Alfiah, Beliau dikaruniai 5 orang anak, namun anaknya yang nomor tiga sudah meninggal dunia dikarenakan menderita penyakit infeksi. Kelima anaknya yaitu; Siti Hamidah, Lu’luul Wafiroh, Khadijah, Anna Salisah Kusnita, dan Lina Khilmiya.

Saat masa kecil seperti halnya anak-anak yang lain tepatnya waktu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Yi Asnawi sangat suka bermain. Hobi beliau adalah sepak bola dan juga kasti, namun yang membedakan Yi Asnawi dengan teman-temannya yang lain adalah beliau sangat gemar membaca.

Setelah lulus SD, Yi Asnawi melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikutnya, namun beliau memilih untuk tidak langsung sekolah ataupun mondok,

Beliau memilih menyelesaikan pendidikan madrasahnya terlebih dahulu sampai beberapa bulan. Selepas dari itu Yi Asnawi melanjutkan pengembaraannya di sebuah Pondok pesantren di Jawa Timur.

Biografi Yi Asnawi

Masa remaja Yi Asnawi sebagian besar dihabiskan di Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur. Di situlah tempat Yi Asnawi memperdalam ilmu agama, tepatnya di Pondok Pesantren Darussalam. Di pondok, Yi Asnawi dikenal sebagai sosok yang pandai oleh teman-teman dan juga Kyainya, utamanya dalam hal ilmu agama. Kurang lebih 12 tahun Yi Asnawi berada di pondok, dan di sini juga beliau bertemu dengan jodohnya yaitu Hj Alfiah.

Hj Alfiah merupakan seorang remaja asal Banyuwangi yang juga mondok di ponpes Darussalam ini, waktu itu mereka berdua sama-sama menjadi pengaman pondok,

Jkarena saling naksir dan jatuh cinta akhirnya kisah cinta mereka sampai ke pernikahan, tepatnya saat mereka menikah yaitu pada tahun 1980.

Sepulang dari pengembaraannya mencari illmu, Yi Asnawi kembali ke Demak, mulai dari masa inilah beliau memulai perjuangannya sebagai seorang Kyai. Diawali dengan para santri yang berdatangan ke rumah beliau, dari yang masih muda hingga yang sudah lanjut usia. Santri tersebut tidak hanya berasal dari dalam desa, ada juga yang berasal dari luar wilayah Gajah, bahkan luar kota seperti Semarang. Tujuan para santri berdatangan ke rumah Beliau tidak lain adalah untuk belajar ngaji kitab. Awalnya hanya ada satu atau dua santri yang belajar kepada beliau, itupun yang sudah lanjut usia. Lama kelamaan menjadi banyak sekali santri yang ingin belajar dengan beliau, utamanya dari kalangan anak muda.

Beliau dikenal dengan sosoknya yang sangat sabar dan lemah lembut kepada santrinya dan juga orang lain

Namun beliau juga bisa bersikap keras ketika menjumpai hal yang menyimpang atau tidak benar.

Peran Kyai Asnawi Sebagai Ulama NU

Peran Yi Asnawi sebagai Ulama NU tidak berhenti sampai di sini, beliau adalah ketua sekaligus pendiri Gedung Haji atau IPHI kecamatan Gajah. Beliau menjabat sebagai ketua IPHI selama 3 periode dan baru diganti setelah beliau wafat. Beliau juga pernah dipercaya menjadi ketua seksi keagamaan oleh MWC NU.

Semasa hidupnya Yi Asnawi bercita-cita bisa mengajar dan mendirikan tempat pendidikan mulai dari RA, MI, MTs, sampai MA di mana beliau tinggal, yaitu di desa Banjarsari.

Keinginan tersebut sudah beliau rencanakan, pada waktu itu beliau juga sudah membentuk tim untuk merintis tempat pendidikan tersebut, dan beliau menjadi ketua panitia pada saat itu.

Rencana tersebut diawali dengan pembangunan RA dan MI, letaknya di Banjarsari bagian selatan. Namun pembangunan hanya berjalan sampai bagian pondasi, dikarenakan waktu itu ada oknum yang menjadikan kepala desa atau lurah Banjarsari menjadi tidak setuju terhadap pembangunan tersebut. Sampai akhirnya Beliau memberhentikan pembangunan RA dan MI tersebut dan diserahkan kepada kepala desa.

Pondasi tersebut kini menjadi Madrasah Diniyah yang diberi nama “Miftahul Ulum”

Dan masih di gunakan untuk kegiatan belajar dan mengajar sampai sekarang.

Kegigihan dan ketekunan dalam segala hal yang dihadapi, membawa beliau menjadi sosok Kyai kharismatik yang di segani oleh semua kalangan. KH Moh. Asnawi Noor wafat dalam usianya yang ke 57 pada tanggal 7 Februari 2013 pukul 17.30 di Rumah Sakit Elizabeth Semarang

Penulis : Miftakhul Naim ( Instagram )

Baca juga : Kuota belajar gratis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Back to top button