news

Menkominfo mengimbau agar sertifikat vaksin tidak ditampilkan di media sosial

Bacawarta.com – Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menghimbau kepada warga untuk tidak mengunggah dan memajang sertifikat vaksin Covid-19 di media sosial, serta tidak sembarangan membagikannya.

Ini mengikuti program vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat yang dimulai bulan lalu. Dulu, staf medis, staf layanan sektor publik, dan lansia yang berinteraksi dengan masyarakat setiap hari telah divaksinasi Covid-19.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam pesan singkatnya dilansir Antara, Kamis, mengatakan: “Terkait privasi data, masyarakat tidak boleh secara tidak sengaja mentransfer sertifikat vaksin COVID-19. Atau membagikan tiket vaksin yang berisi kode QR ke media sosial. . 4/3)).

Menurut pemberitaan, beberapa warga kerap membagikan foto dan video yang diunggah usai divaksinasi. Beberapa berpartisipasi dalam mengunggah sertifikat vaksin COVID-19, sementara yang lain mengaburkan beberapa data pribadi. Namun bagi yang tidak paham akan membeberkan informasi pada sertifikat sebagaimana adanya.

Vaksinasi

Tiket vaksinasi akan didapatkan warga yang sudah mendapatkan jadwal vaksinasi. Tiket vaksinasi sudah termasuk kode QR, waktu dan tempat vaksinasi.

Selain itu, semua orang yang telah divaksinasi COVID-19 akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat vaksin menunjukkan bahwa dia telah divaksinasi pada tanggal tertentu. Pada vaksinasi pertama dan kedua, sertifikat dikeluarkan dua kali.

Sertifikat dibagi menjadi sertifikat fisik dan sertifikat digital. Sertifikat fisik akan diberikan di lokasi vaksinasi, sedangkan sertifikat digital akan diberikan melalui aplikasi PeduliL Protect.

Warga yang divaksinasi juga akan mendapatkan 119 SMS berisi link ke sertifikat vaksin COVID-19 versi digital.

Apa informasi pribadi?
Pasal 58 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Penataan Kependudukan menyebutkan bahwa data pribadi sedikitnya memuat 26 item.

Untuk sertifikat vaksin COVID-19, tiga hal yang meliputi data diri adalah nama lengkap, Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan tanggal lahir.

Sekilas terlihat bahwa data tersebut bersifat independen, namun bila digabungkan dapat digunakan untuk mengidentifikasi individu.

Misalnya, dengan menggabungkan nama lengkap, NIK, dan tanggal lahir, seseorang yang ahli dalam melacak data dapat memperoleh nomor ponsel orang yang bersangkutan. Item kuncinya adalah Nomor Induk Kependudukan atau NIK.

Johnny berkata: “Pada prinsipnya, informasi yang berhubungan dengan kesehatan, seperti informasi penyakit dan riwayat kesehatan, adalah informasi pribadi. Oleh karena itu, informasi ini tidak boleh dipublikasikan secara tidak perlu.”

Hal ini juga berlaku untuk hasil tes medis, seperti hasil tes usap antigen rumah sakit, yang berisi beberapa informasi pribadi.

Bahkan tiket vaksinasi COVID-19 tidak boleh dibagikan di media sosial karena di dalamnya terdapat kode QR (QR code) yang merupakan tautan ke informasi pengguna tertentu di aplikasi PeduliLindung.

Untuk keamanan dan kerahasiaan data, gunakan hanya sertifikat yang telah divaksinasi COVID-19 untuk tujuan yang diizinkan, seperti laporan kesehatan perusahaan atau karyawan saat menggunakan layanan kesehatan atau transportasi umum.

Baca juga : Perbedaan antara WhatsApp dan Signal dalam hal fungsionalitas dan keamanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button