BisnisEkonomiFinansial

harga saham, Arah IHSG di Akhir Tahun

Bacawarta.com | Mirae Asset Sekuritas memperkirakan, gerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan sedikit ketahan sesudah penguatan yang terjadi semenjak Juni 2021. Index di bulan ini akan mengarah ke level 6.507 lebih dulu, lalu dapat berbalik arah di akhir tahun ini ke level 6.880.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina menerangkan, IHSG meneruskan penguatan pada Oktober 2021 sebesar 4,8% dari September 2021 dengan tingkat paling tinggi berada di 6.687. “Bila dihitung semenjak awal tahun, IHSG telah menguat 10,2% sampai Oktober 2021,” jelas ia pada acara Mirae Asset Day secara Virtual, Kamis (4/11).

Kenaikan IHSG pada Oktober 2021 dipengaruhi oleh PMI Manufacturing Oktober yang mencapai 57,2 atau bertambah dari 52,2 di bulan sebelumnya. Indeks kepercayaan customer mencapai tingkat tertingginya pada Oktober hingga mendorong peningkatan belanja rumah tangga dan belanja pemerintah mendekati tahun akhir ini.

Performa keuangan emiten pada kuartal III-2021, lanjut Martha menunjukkan kenaikan terutama di sektor batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan logam. Peningkatan performa terlihat pada sektor industri, perbankan dan infrastruktur.

Kenaikan performa ini berpengaruh pada gerakan indeks sektoral, yaitu IDX Finance yang pimpin pertumbuhan indeks sektoral, yaitu mencapai 9%. Beberapa saham penggeraknya ialah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). “Sementara indeks sektoral yang menulis perform terburuk ialah IDX Techno dan IDX Cyclical yang masing-masing terkoreksi 0,4%,” jelas Martha.

Tindakan beli investor asing pada saham berkapitalisasi besar (big caps) menggerakkan peningkatan IHSG. Tidak kurang Rp 20 triliun modal investor asing masuk ke pasar saham sepanjang Oktober 2021. Martha mengatakan, sekitaran 50% dari modal investor asing itu masuk ke saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Tetapi, rally yang terjadi di pasar saham sedikit tertahan pada bulan ini. Sentimen yang mempengaruhinya ialah pergerakan ekonomi global dan rencana The Fed yang hendak melakukan tapering (pengurangan stimulus).

Martha mengungkapkan, efek dari tapering ini condong minimal ke IHSG. Masalahnya investor sudah tahu info tapering ini semenjak jauh hari dari The Fed. “Efek perubahan besar kelak justru terjadi pada perubahan suku bunga The Fed yang sampai pertemuan paling akhir tidak ada indikasinya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger memandang, ekonomi Indonesia masih diuntungkan oleh ada reopening economy dan kenaikan belanja pemerintah mendekati akhir tahun ini. Disamping itu, kenaikan harga komoditas yang terjadi akhir-akhir ini dapat menggairahkan ekonomi secara keseluruhan. “Karenanya, kami masih optimis akhir tahun IHSG akan berada di 6.880,” kata dia.

Mengantisipasi pelemahan pasar pada bulan November, Martha mereferensikan saham-saham kapitalisasi besar yang bisa menjadi pilihan investor, yaitu dari sektor perbankan, saham BBCA dengan target harga Rp 7.370, BBRI dengan target harga Rp 4.450, BMRI Rp 8.230, dan BBNI Rp 8.975.

Mirae Asset merekomendasikan saham di sektor industri dengan saham pilihan PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang terdorong oleh peningkatan alat berat dan penjualan otomotif.Lalu dari sektor infrastruktur adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Tower Bersama Tbk (TBIG), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). “Saham dari sektor infrastruktur terdorong ada aksi korporasi dan perkembangan dunia ke digitalisasi,” jelas Martha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button